3 Nov 2011

Berdamai dengan Deadline: Cerita “Me and Lionel Messi”

                
Sebenarnya, saya sudah biasa bekerja di bawah tekanan deadline. Tetapi, deadline untuk penulisan Me and Lionel Messi ini benar-benar membuat saya berdarah-darah! (lebay, ah!)

Sebelumnya, ketika menulis “Nasi Goreng Meledak”, saya memang berangan-angan untuk membuatnya menjadi cerita berseri. Jadi, masih ada beberapa ide cerita tentang Lintang yang belum saya garap. Nah, suatu hari Kang Ramadhan, editor DAR! Mizan meminta saya untuk membuat sekuel Nasi Goreng Meledak. Satu kesempatan yang sayang untuk dilewatkan. Saya suka cerita Lintang, dan saya masih punya beberapa stok ide cerita yang belum dikembangkan. Pas banget, kan, ada yang memintanya? Satu hal yang membuat saya berpikir adalah deadline satu setengah bulan untuk membuat sekuel itu.

Sering-Seringlah Mencatat: Proses Kreatif “Mareta, Tolong Aku!”

Dibandingkan buku-buku saya yang lain, proses penulisan “Mareta, Tolong Aku!” adalah yang paling lama. Idenya sudah muncul sejak tahun 2005. Waktu itu, saya membaca-baca rubrik “Apa Kabar, Bo?” yang ada di Majalah Bobo. Mestinya, rubrik ini berisi komentar atau pertanyaan pembaca tentang isi majalah. Tetapi, waktu itu, kok malah jadi ajang curhat.

Saya berpikir, anak-anak ini harus punya wadah untuk curhat. Saya pun mengusulkan kepada salah satu redaktur untuk membuat rubrik curhat. Sayang, mungkin karena keterbatasan halaman, usul saya tidak terfasilitasi.

“Suatu saat, saya akan membuat buku tentang curhat anak-anak,” pikir saya.

Kenali Penerbit: Perjalanan Panjang “Nasi Goreng Meledak”

Salah satu tips untuk menerbitkan buku adalah kenali karakter penerbitnya. Bagaimana caranya? Sering-seringlah ke toko buku untuk melihat buku-buku terbitan penerbit yang Anda incar. Kalau perlu, berkenalanlah dengan editornya.

Ketika menulis naskah “Nasi Goreng Meledak”, saya memang belum punya bayangan, di mana saya akan menerbitkan naskah tersebut. Yang penting, saya menulis apa yang ingin saya tulis.

Ide dari Mana-Mana: Kisah Serial “I Love Monster”

”Nggak mau masuk kamar, ada hantu baju!” kata keponakan saya yang waktu itu berumur 5 tahun. Ada-ada saja yang ditakutinya. Ada hantu baju, hantu mobil, hantu pintu, dan berbagai hantu aneh lainnya.

Mendengar komentar itu, saya jadi berpikir, anak-anak kecil memang sering takut pada sesuatu yang kadang, menurut kita, biasa-biasa saja. Apa, sih, yang sering ditakuti anak-anak? Ke dokter... gelap... halilintar... Oiya, anak-anak juga sering malas melakukan sesuatu. Malas mandi... makan sayur... buang sampah...