17 Jul 2013

Belajar, Tak Pernah Mati

Liputan ke Dayak (foto: Ricky Martin)
Saya senang menulis. Seingat saya, sejak SD saya sudah menyukai pelajaran bahasa Indonesia, terutama mengarang. Waktu SMP, saya ikut mading. Waktu SMA, saya bergabung dalam tim buletin sekolah. Sempat, waktu SMA kepingin masuk jurusan bahasa. Sayang, sekolah saya tak membuka jurusan bahasa.

Namun, waktu kuliah, saya malah tidak kepingin masuk jurusan sastra atau komunikasi. Tidak terbayang dalam benak saya untuk menjadi sastrawan, penulis, bahkan wartawan. Saya malah masuk Fakultas Psikologi. Meskipun begitu, saya tetap senang menulis.



Karena latar belakang ilmu saya psikologi, saya senang menulis artikel-artikel keluarga untuk majalah Familia, sebuah majalah keluarga yang diterbitkan oleh Penerbit Kanisius. Karena waktu kecil saya suka baca Bobo dan buku-buku cerita anak, mulailah saya belajar menulis cerita anak. Hingga akhirnya, melalui serangkaian proses yang panjang dan berliku, terdamparlah saya sebagai seorang penulis dan reporter di majalah anak-anak.

Saya ingat, pernah ditertawakan oleh teman kuliah saya, “Mau jadi apa kamu di sana?” Beberapa orang juga menganggap ilmu saya nggak nyambung dengan profesi saya sebagai penulis dan reporter. Padahal, kalau mereka tahu apa yang saya kerjakan, pasti mereka akan manggut-manggut dan bilang, “Oh, ternyata nyambung juga, ya….”

Karena lebih banyak terbiasa menulis artikel untuk orang dewasa, tidak mudah bagi saya untuk mengubah haluan, menulis untuk anak-anak. Beruntung, seorang senior sempat mendampingi saya, bersedia meluangkan waktu untuk mengomentari tulisan-tulisan saya. Beliau banyak memberi contoh, juga memberikan ilmu-ilmu penulisan yang sangat aplikatif. Namun, dari sekian banyak ilmu yang beliau berikan, intinya cuma dua, belajar dan berlatih.

Saya pun belajar dan berlatih menulis artikel untuk anak-anak. Saya belajar menyampaikan hasil reportase dengan bahasa anak-anak. Saya belajar menulis cerita fiksi, baik dongeng, cerpen, cergam, juga komik. Saya juga mulai belajar mengedit. Lama-lama, saya ingin belajar bikin buku. Cerita-cerita yang tak bisa tersampaikan di majalah, saya coba untuk mengolahnya menjadi buku. Seri I Love Monster adalah buku pertama saya yang terbit untuk umum. Senaaang sekali rasanya!

Lalu, saya belajar lagi, mencoba membuat cerita berseri yang dibukukan. Lama-lama, penasaran untuk mencoba membuat novel. Semua memang melalui serangkaian proses belajar. Belajar, lalu mencoba.

Kira-kira setahun yang lalu, seorang teman menawari saya untuk menjadi co-writer sebuah buku faksi tentang anak-anak berprestasi. Hmm, saya tertarik. Tetapi, saya belum pernah menjadi co-writer. Dan saya juga belum pernah menulis novel faksi. Dan, jreng … jreng … inilah hasil belajar saya, sebuah buku berjudul “Bola-Bola Mimpi di Kaki Alif.”

Dalam buku ini, saya “hanya” menjadi co-writer. Penulis utamanya Tristan Alif Naufal, seorang anak yang berbakat sepak bola. Buku ini bercerita tentang kisah keseharian Alif yang sangat menyukai sepak bola. Juga, perjuangan Alif untuk menggapai impiannya menjadi pemain sepak bola profesional. Ternyata, menjadi pemain sepak bola profesional itu tidak mudah. Berbagai tantangan, kegagalan, maupun keberhasilan dialami Alif. Bagaimana Alif harus keluar dari sekolah sepak bola, bagaimana Alif harus makan nasi merah yang tidak disukainya. Juga, bagaimana Alif berhasil memenangkan turnamen-turnamen sepak bola. Seru!
Alif dan bukunya (foto: dok. Alif)

Kisah di balik penulisan buku ini juga seru. Saya harus beberapa kali bertemu Alif untuk mengobrol tentang isi buku ini. Biasanya saya bertemu Alif di rumahnya, juga di lapangan ketika dia sedang berlatih bola. Tak hanya menemui Alif, saya juga harus bertemu dengan orang tua, pelatih, serta teman-teman Alif. Untuk melengkapi foto, saya harus memotret juga.

Nah, penasaran dengan hasil belajar saya? Buku “Bola-Bola Mimpi di Kaki Alif” sudah beredar di toko buku. Beli, ya! ^_^


0 comments:

Posting Komentar