3 Feb 2014

Cerbung: Rahasia Hantu (2)

Cerita sebelumnya:

Sebagai hantu, aku dan teman-temanku bertugas untuk menakuti anak-anak. Tetapi, ini sudah kelima kalinya aku gagal menjalankan tugasku. Tali-tali celana sialan itu selalu menjerat kakiku dan membuatku terjatuh. Aku sedih. Lolita, hantu sahabatku, menghiburku. Katanya, dia punya sebuah rahasia besar!


ilustrasi: Joe
Lolita tersenyum misterius. “Rahasia besarku adalah... “ Lolita memelankan volume suaranya. Aku deg-degan menunggu kelanjutan ceritanya.


“Ah, aku malu menceritakannya! Sebenarnya, aku tidak ingin menceritakannya padamu!” seru Lolita tiba-tiba. Ah, Lolita memang aneh! Tadi, dia mau bercerita. Sekarang, dia tidak mau bercerita. Bagaimana, sih, anak ini?

“Ayolah! Ceritakan padaku. Siapa tahu, rahasiamu bisa menghiburku,” bujukku.
Lolita terlihat berpikir sejenak. “Baiklah. Tetapi, jangan ceritakan kepada siapa pun, ya! Sini, dekatkan kupingmu padaku. Ssst, kemarin, aku juga gagal menakuti Puteri, hihi...” Lolita terkikik geli. Lama-lama, tawanya meledak!

Mataku terbelalak. Oh, jadi, tidak cuma aku yang gagal?! Wow, ini berita baru!

“Kok, bisa?” tanyaku penasaran.

“Waktu itu, Puteri sedang di rumah sendirian. Aku menakuti Puteri dengan bisikan-bisikan anehku. Puteri mulai ketakutan. Wajahnya sudah memucat. Dia sudah hampir menangis. Tiba-tiba, aku tersedak dan terbatuk-batuk. Ugh, sebel, deh! Puteri jadi tertawa mendengar suara batukku yang lucu.”

Hihihi... Tiba-tiba, aku terkikik. Ya, aku ingat, suara batuk Lolita memang aneh, seperti bunyi kaleng yang dipukul-pukul pakai tongkat. Bukannya menakutkan, tetapi malah bikin tertawa.

Aku jadi ikut tertawa. Kesedihanku sedikit berkurang setelah mendengar cerita Lolita. Lolita memang sahabat yang baik hati. Dia bisa diandalkan di kala hati sedih maupun gembira.

Kami sama-sama tertawa membayangkan suara batuk Lolita yang lucu. Tidak hanya Puteri, siapa pun yang mendengarnya pasti akan tertawa.

“Sekarang kita bisa tertawa. Tetapi, sebenarnya aku mulai cemas,” kata Lolita.
Tampilan "Rahasia Hantu-2" diilustrasi oleh Joe


Aku menoleh. Setahuku, Lolita adalah hantu yang periang dan selalu memikirkan hal-hal baik. Apa yang dia cemaskan?

“Kalau anak-anak mulai tidak takut lagi kepada kita, tugas kita pasti semakin berat. Kita harus mencari cara baru supaya anak-anak kembali takut kepada kita. Bukankah sudah tugas kita untuk menakuti anak-anak?” kata Lolita sambil menerawang.

Ya, Lolita benar. Lolita saja, yang baru sekali gagal melakukan tugasnya, sudah berpikir begitu. Apalagi, aku yang sudah lima kali gagal. Bagaimana aku harus menyelesaikan tugas-tugasku selanjutnya, ya?
Ketua hantu pasti akan marah kepada kami, terutama kepadaku. Mungkin, kami akan mendapatkan hukuman. Bisa saja kami disuruh lari mengelilingi lapangan negeri hantu dengan satu kaki. Bisa juga disuruh mendandani wajah teman-teman kami selagi mereka tidur. Atau, disuruh menirukan seratus macam suara tawa manusia yang paling mengerikan. Ah, aku tidak berani membayangkan bentuk hukuman yang akan kami terima. Semuanya beraaat!

“Tolooong!”

Hei, tiba-tiba, kami mendengar suara jeritan! Aku dan Lolita saling berpandangan.

“Suara Davin,” gumamku. Perasaanku tidak enak. Seingatku, Davin adalah hantu paling penakut yang pernah kukenal. Jangan-jangan, telah terjadi sesuatu pada Davin.

“Hahaha!” Kali ini terdengar suara anak laki-laki yang tertawa. Sepertinya, aku mengenali suara tawa itu. Tetapi, suara siapa, ya?

“Ttt...ttto...long...”

Jeritan itu semakin memilukan. Sepertinya, dia benar-benar membutuhkan pertolongan. Aku dan Lolita segera berlari mencari asal suara itu. Benar, itu suara Davin! Kami melihat Davin yang gemetar di atas jembatan penyeberangan. Di depannya ada Vico, anak laki-laki nakal yang sering bermain di jembatan itu. Vico sedang tertawa terbahak-bahak, bahkan sampai terbungkuk-bungkuk.

Aneh! Seharusnya, Davin adalah hantu yang bertugas menakut-nakuti Vico. Tetapi, kenapa malah Davin yang ketakutan? Sedangkan, Vico malah tertawa terbahak-bahak. Ini benar-benar aneh. Pasti telah terjadi sesuatu yang luar biasa!

(bersambung)



-- cerita ini dimuat di Majalah Bobo No. 41/XXXIX --

0 comments:

Posting Komentar