18 Feb 2014

Cerbung: Rahasia Hantu (4)

Cerita sebelumnya:  

ilustrasi: Joe
Davin dan Raffa juga gagal menakuti anak-anak. Kekacauan ini tidak bisa dibiarkan. Kalau anak-anak tidak takut lagi pada hantu, tamatlah riwayat kami. Aku pun mengusulkan kepada teman-teman untuk mengadakan konferensi para hantu.

Aku memandang berkeliling. Lima temanku sudah hadir di sini, di rumah kosong belakang toko es krim. Lolita, Davin, Raffa, Nancy, dan Drew. Aku melirik Drew yang meraih tempe goreng yang ketiga dari piring di depan kami. Padahal, konferensi belum dimulai. Ah, dasar Drew si tukang makan!


Kamu pasti heran, kan, kenapa hantu makan tempe goreng? Karena tempe goreng adalah makanan yang sangat lezat dan bergizi. Protein di dalam tempe sangat tinggi dan mudah dicerna, sehingga cocok untuk mengatasi diare. Eh, kami kan, sedang berkonferensi, kok malah membahas tempe goreng, sih? Yang jelas, karena aku paling suka makan tempe goreng, aku pun menyuguhkannya kepada teman-temanku.

“Gagi, awa wang hawuh kika wakukang?” tanya Drew dengan mulut penuh. Aduuuh, ini sudah tempe goreng kelima! Mulut penuh, kok, berbicara, sih? Drew memang tidak sopan. Kalau sampai ada hantu dewasa yang tahu, pasti Drew akan dimarahi. Aku dan teman-teman lainnya sampai harus berpikir keras untuk menerjemahkan pertanyaan Drew.

Kami berenam terdiam mencari-cari ide. Sampai akhirnya, Drew membuka mulutnya. Bukan, bukan untuk melahap tempe goreng keenam, tetapi untuk mengungkapkan idenya.

“Bagaimana kalau kita menakuti anak-anak itu bersama-sama? Kita melebur menjadi satu kelompok.” Kali ini, Drew bisa berbicara dengan jelas karena dia sudah menelan kunyahan tempe gorengnya.

“Enggak bisa, Drew. Itu akan sangat merepotkan. Kita tidak bisa terus menerus bersama-sama ke mana-mana. Kita, kan, sudah punya tugas sendiri-sendiri. Kalau harus pergi bersama-sama terus, bisa-bisa, tugas kita malah enggak selesai. Kita hanya akan bermain-main terus, tidak bisa serius melaksanakan tugas.”
Tampilan "Rahasia Hantu-4" diilustrasi oleh Joe.

Si kecil Nancy mengangkat tangannya. “Aku ada ide!” serunya. “Bagaimana kalau kita ikut kursus menakut-nakuti anak-anak? Pak Rooster sering mengadakan kursus seperti itu! Kalau mau, aku berani, kok, menanyakan kepada Pak Rooster, apakah kita boleh mengikuti kursusnya.”

Kami memandang Nancy dengan pandangan tak setuju. Pak Rooster adalah hantu dewasa yang berjenggot panjang dan berkumis tebal. Kami takut padanya. Apalagi, anak-anak manusia! Dia memang sering mengadakan kursus bagi para hantu cilik untuk menakuti anak-anak. Hmm, kursus di tempat Pak Rooster yang super galak itu?! Oooh, buang saja idemu jauh-jauh, Nancy!

Tiba-tiba Raffa melambai-lambaikan tangannya seperti bendera yang berkibar ditiup angin. Wah, kalau si pendiam yang satu ini punya ide, biasanya masalah akan terpecahkan! Aku mulai bersemangat.

“Bagaimana kalau...” Tiba-tiba Raffa terdiam dan terlihat berpikir keras.

“Katakan saja, Raffa!” seruku tidak sabar.

Raffa masih diam. Malah, dia memandang kami dengan bingung.

“Ayo, dong, Raffa!” bujuk Lolita. “Enggak perlu malu atau ragu-ragu.”

“Astaga...” bisik Raffa. “Aku lupa apa yang mau kukatakan...”

Huuuh, kami memandang Raffa dengan kesal!

Hei, aku membelalakkan mataku sambil tersenyum! Baru saja aku mendapatkan ide hebat yang pasti akan berhasil. Ya, kenapa baru terpikir olehku saat ini? Dengan semangat aku mengungkapkan ideku pada teman-teman.

“Wow, keren!” seru Davin bersemangat. “Aku sudah tidak sabar untuk segera mencobanya.”

“Itu jauh lebih mudah daripada mengikuti kursus Pak Rooster!” tambah Nancy.

“Kita pasti bisa melakukannya!” Drew ikut mendukung.

Ya, semua teman mendukung ide hebatku. Akhirnya, kami telah mengambil keputusan. Konferensi pun dibubarkan. Meskipun demikian, masih ada satu hal yang meresahkan aku.

(bersambung)

--cerita ini dimuat di Majalah Bobo No. 43/XXXIX--

2 comments:

MEINE WELT mengatakan...

Ceritanya nggemesin bangeeeet.... hihihi... mbayangin hantu-hantu kecil pada ipyik... :)

Veronica W mengatakan...

Makasiiih. Hihi... ipyik sambil makan tempe kripyik, yo, Mbak ;)

Posting Komentar