31 Mar 2015

Membingkai Kenangan dalam Cerita

Fotografer: Ricky Martin
Ada begitu banyak kenangan dalam hidup saya. Ada orang-orang yang patut dikenang, ada pengalaman manis dan pahit di masa lalu, juga tempat-tempat menarik yang pernah dikunjungi. Tak semuanya bisa tersimpan dalam memori saya (yang cukup payah alias pelupa ini :D). Salah satu cara saya menyimpan kenangan itu adalah dengan menuliskannya dalam cerita.

Senyum Ferdinand

Ini cerpen pertama saya yang dimuat di Majalah Bobo. Kalau enggak salah, saya tulis sekitar tahun 2000 (saat honor masih dikirim dengan weselpos :p). Cerpen ini bercerita tentang seorang anak yang wajahnya selalu tersenyum. Meskipun diledek, diejek, digodain sama teman-temannya, anak yang bernama Ferdinand ini cuma senyum-senyum. Ferdinand ini benar-benar ada. Dia teman sepupu saya. Waktu saya menulis cerpen ini, Ferdinand masih SD. Entah sekarang. Sepupu saya saja sudah menikah. Hmm, sepertinya besok saya perlu menelepon sepupu saya untuk menanyakan kabar Ferdinand ^_^

Kampung Igloo
Rumah dome antigempa di Jogja


Kampung Igloo adalah judul cergam Bobo yang pernah saya tulis beberapa tahun yang lalu. Ceritanya tentang Coreng dan Upik yang kepingin tinggal di rumah igloo. Lalu, Bobo punya ide untuk membuat rumah-rumahan dari kardus yang atapnya ditutup payung supaya terlihat bulat. Ide cerita ini dari kenangan masa kecil saya yang suka main rumah-rumahan. Lalu, ditambah dengan pengalaman liputan rumah dome antigempa yang dibangun di Jogja setelah gempa 2006.

Nyanyian di Baik Kabut
Penjual tenun di Kelimutu (Fotografer: Ricky Martin)

Waktu mendapat tugas liputan ke Flores tahun 2007, sepertinya itu jadi pengalaman tak terlupakan. Saya benar-benar terpesona oleh keindahan Flores. Rasanya, semua hasil liputan sudah saya tulis di Bobo. Namun, tetap saja, ada kepingan-kepingan kisah yang tak bisa tertampung dalam rubrik Liputan dan Potret Negeriku. Maka, saya menuliskannya dalam cerbung “Nyanyian di Balik Kabut” yang dimuat di Bobo tahun lalu. Secara keseluruhan, cerita dalam “Nyanyian di Balik Kabut” bukanlah kisah nyata. Tetapi, beberapa adegan di dalamnya adalah kenangan saat saya “jalan-jalan” di Flores.Misalnya, tentang penjual tenun di Kelimutu yang muncul di "Nyanyian di Balik Kabut" seri 3.

Itu baru beberapa cerita yang idenya berasal dari kenangan-kenangan dalam hidup saya. Biasanya, kalau baca cerita-cerita itu, langsung ingat dengan kejadian yang sebenarnya. Nah, ingin mengenang kisah-kisah manis dan pahit dalam hidup? Tulislah cerita! ^_^

4 comments:

Dewi Rieka mengatakan...

iya, pengalaman hidup pahit manis bisa diabadikan dalam cerita-cerita kita ya mba..

Veronica W mengatakan...

Betuuul! Anak Kos Dodol contohnya, ya, Mbak ;)

Sarah Amalia mengatakan...

Saya sering membaca tulisan mbak Vero di majalah Bobo, sangat menginspirasi...

Veronica W mengatakan...

Makasiiih ^^

Posting Komentar